Kehangatan Ngentot Dengan Pedagang Bakso-1

Oleh Cerita 17 Tahun Pada 16 November 2015 - 00:56

Sosok pria berusia 40an akhir dan bertubuh gempal itu dengan sabar melayani para pelanggan yang berebut membeli baksonya. Tak kenal lelah dan selalu tersenyum walau peluh bercucuran karena panasnya . Pak Fahri, nama pria pemilik warung mie bakso yang terkenal di kota itu. Begitulah situasi sehari-hari di warung mie bakso itu, para mahasiswa dari kampus dekat situ, para pekerja bangunan sampai keluarga tampak ramai duduk di area makan depan warung. Suasana khas warung bakso terlihat dari meja dan bangku panjang yang tersedia. Ruangannya yang cukup luas dan memanjang agak gerah karena kurangnya kipas. Kadang Pak Fahri nampak kewalahan karena pelanggan berjubel di gerobaknya untuk antri membeli mie baksonya, sehingga membuat beliau susah bergerak dan terkadang batuk - batuk, mungkin karena tak sempat mengambil nafas di tengah kegerahan dan kesibukannya. Meskipun begitu senyum selalu menghiasi wajahnya, sungguh sosok yang sangat gigih dalam menjalani profesinya. Dalam hal kesabaran beliau sudah tidak bisa diragukan lagi. Bagaimana tidak, ketika sedang melayani para pembeli, ada saja pembeli nakal yang sering kali ada yang mengambil kuah seenaknya kadang nyangkut juga beberapa butir bakso dan tidak dibayar sepeserpun, kadang mangkuk atau gelas pecah oleh pembeli yang tidak sengaja menjatuhkannya tapi beliau tak pernah ngomel - ngomel seperti tukang bakso kebanyakan paling beliau hanya senyum mesem sambil mengatakan tidak apa-apa pada si pembeli yang meminta maaf padanya, ia bahkan menolak ketika si pembeli itu hendak mengganti mangkoknya, baru setelah orang yang memecahkan mangkok itu memaksanya menerima uang itu barulah ia menerimanya. “Yah lain kali hati-hati aja Den supaya ga pecah lagi” begitu katanya dengan ramah. Harga yang pas bagi kantung orang banyak, namun dengan porsi yang ‘generous’ serta rasanya yang ‘mak...nyus’ (kata Pak Bondan), plus kebersihan warung serta keramahan pemiliknya, itulah faktor-faktor yang membuat warung mie bakso Pak Fahri selalu ramai dikunjungi orang. Namun satu faktor lagi yang membuat orang selalu ingin menyisihkan uang untuk membeli mie baksonya adalah rasa simpati juga kasihan. Ya...Pak Fahri hanya tinggal berdua dengan Hamzah, putranya 17 tahun, yang menderita keterbelakangan mental, remaja pria ini juga membantunya melayani para pembeli di warung berukuran sedang itu. Sementara istrinya sudah lama meninggal dalam kecelakaan ketika Hamzah masih kecil. Sejak itu pria itu berjuang keras sendiri memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua. Warung itu buka mulai pukul enam pagi hingga hingga pukul tiga sore, kadang kalau jualannya sudah habis ia biasa menutup warung. Anehnya warung yang ramai itu hanya dijalankan oleh mereka berdua, memang terkadang ada karyawan lain yang bertugas sebagai pelayan dan kasir namun tidak lama mereka tiba-tiba menghilang. “Udah pulang lagi, gak cocok kayanya kerja di sini...” itulah jawaban Pak Fahri bila ditanya pelanggan mengenai karyawannya yang tidak terlihat lagi, “soalnya saya emang rewel soal kebersihan, kotor dikit atau racikannya salah dikit saya pasti tegor, ya gimana ya? Itu mau gak mau harus, kan demi kepuasan pelanggan juga” Tingkah laku Hamzah yang seperti anak-anak namun rajin membantu ayahnya itu pun mengundang simpati pelanggan. Kadang para mahasiswa yang makan di situ memberikannya alat tulis, mainan, pakaian, atau hadiah lainnya untuk remaja tersebut yang diterimanya dengan penuh rasa syukur dan terima kasih pada mereka. ########################### Suatu siang jam makan siang Pak Fahri Warung Pak Fahri, seperti biasa, sedang ramai dikunjungi pembeli. Pak Fahri seperti biasa sangat sibuk meracik bumbu dan menuangkan kuah ke mangkok yang dipesan, juga sesekali menerima dan mengambil uang kembalian, sementara Luthfi lalu-lalang membawakan pesanan yang sudah jadi pada pelanggan. Televisi yang dipasang di atas sedang menayangkan berita mengenai menghilangnya pengacara kontroversial Farhat Abass di kota tersebut. “Kena sumpah pocongnya sendiri kali tuh orang!” celetuk seorang mahasiswa disambut gelak tawa teman-temannya. “Syukurin tuh, makanya jangan banyak bacot ngehakimin orang melulu, kaya sendirinya udah bener aja” seorang gadis lain berkata dengan sinis lalu menggigit bakso urat yang disendoknya. “Menghilangnya di kota ini loh, lokasinya gak jauh dari sini lagi” kata seorang pegawai negeri pria, “cuma mobilnya doang yang tersisa, mungkin penculikan kali ya” “Bodo amat lah, semoga gak pernah nongol lagi tuh mahluk” timpal rekannya yang lebih tua, “banci satu itu pantesnya dijadiin bakso kaya gini nih” sambil menusuk sebutir bakso tenis dari mangkoknya “terus....emmmhhh....” lanjutnya seraya menggigit bakso itu, telur puyuh dan daging cincang di dalamnya yang juicy itu pun mengisi mulut si pria itu yang melahapnya dengan nikmat. Pak Fahri nampak senyum-senyum sambil terus sibuk mendengar obrolan para pelanggannya. “Pak! Tambah lagi dong, ususnya banyakan ya” sahut seorang pemuda menyodorkan mangkok kosong ke dekatnya, “kaya lebih enak hari ini, dagingnya pasti segar ya Pak?” “Selalu Den, Bapak selalu pakai daging segar supaya kualitasnya gak nurun” jawab Pak Fahri sambil menuangkan kecap ke dua mangkok mie, Hamzah langsung mengambil nampan tersebut setelah ayahnya selesai, “nih...segini Den...cukup ga?” ia lalu menuangkan jeroan beserta kuah yang disendoknya dari panci. “Cukup Pak, makasih ya!” pemuda itu kembali ke mejanya. “Pak! Yamien manis dua dibungkus ya...dua-duanya pake bakso-pangsit!” sahut seorang pria dari bangku dekat situ yang hampir menghabiskan makanannya. “Siap bos!” jawab pria ramah itu. “Pak bihun asin, pake bakso yang gede ya!” pinta seorang staff kantoran yang datang bersama seorang temannya, “lu pesen apa Jo?” tanyanya pada temannya yang baru pernah ke warung tersebut. “Saya es kelapa muda aja Pak!” kata temannya, lalu keduanya duduk agak di pojok “Disini paling terkenal baksonya terutama yang urat, ga mau nyoba lu?” kata si pria pertama itu. “Gua belum laper, lagian di keluarga gua daridulu gak pernah makan bakso soalnya lu ga pernah tau bahan apa yang dipakai untuk membuatnya” jawab temannya dengan suara dipelankan. Waktu terus bergulir, pembeli datang dan pergi, mulai masuk setengah dua, suasana warung mulai lenggang, hanya terlihat lima orang sedang makan di sana dan seorang wanita menunggu di samping gerobak untuk pesanan yang dibungkus. Setelah menerima uang dari si wanita itu, Pak Fahri mengelap keringat di dahinya lalu mulai menghitung rezeki yang masuk hari itu. “Apa nih Pak? Kayanya enak?” tanya Luthfi, tukang parkir preman yang mau bayar menunjuk ke arah makanan di piring. “Ooh...ini sih gak dijual, buat makan kita nanti, iga bakar bumbu...” jawabnya “Nyoba satu yah Pak!” Luthfi nyelonong mengambil sepotong daging iga itu, dikeratnya daging itu, pria itu mengangguk-angguk merasakan lemak dan bumbu yang mengundang selera itu mengalir di mulutnya, “wuih...maknyus, si bapak bukan cuma pinter bikin bakso ternyata ya” komentarnya. “Hehehe...ya maklumlah harus bisa masak, udah ga ada istri ini lah” kata Pak Fahri, “nih kalau mau ambil aja lebih deh Fi...” ia mengeluarkan plastik kecil dan memasukkan tiga kerat daging iga itu ke dalamnya. “wah bener nih Pak...lagi dong dua lagi, enak sih” kata Luthfi tak tahu diri, “Boleh, kita juga cuma duaan, ga bakal abis semua sehari” tanpa terlihat keberatan, pria itu menambahkan dua kerat lagi. “wah makasih banget Pak, lain kali jualan iga bakar juga pasti laku” “Ah...belum kepikir lah, takutnya gak kepegang, hahaha” Jam dua lebih, dua orang terakhir membayar dan pergi sehingga tinggallah si penjual bakso itu dan putranya yang keterbelakangan mental. Langit sudah mendung, sayup-sayup gerimis kecil mulai turun membasahi bumi. Pak Fahri selesai menghitung uang, ia bersyukur pendapatan hari ini cukup banyak sehingga sekarang hujan pun tidak mengapa, lagipula sebentar lagi sudah waktunya tutup. Saat itu Hamzah sudah naik ke atas untuk tidur siang setelah disuruh naik oleh ayahnya karena sudah sepi dan tinggal tunggu tutup. Ketika sedang nonton TV, seorang gadis bule menyandang tas ransel lumayan besar melintas dan ternyata ia memasuki warung sederhana Pak Fahri. “Selamat siang...apakah ini Mie Bakso Pak Fahri?” sapanya dengan logat bulenya yang kental, senyum manis pada wajahnya menambah kecantikannya. “Ohh...iya iya, silakan duduk, mau makan apa Non?” Pak Fahri balas menyapa gadis itu dan mempersilakannya duduk setelah terpana beberapa detik karena terpesona. Gadis bule ini bernama Jill Richardson (19 tahun), asal Australia, ia cukup fasih berbahasa Indonesia, karena pernah mempelajarinya dalam ekstrakurikuler semasa sekolah dulu. Dalam rangka mengisi liburan kuliahnya, ia melakukan perjalan wisata ke Indonesia secara backpacker, ini bukanlah kali pertama ia ke Indonesia sehingga ia cukup berani melakukan perjalanan wisata ini. Secara fisik, Jill termasuk yang di atas rata-rata, dengan mata indah kehijauan saat itu rambut coklat sedadanya diikat ekor kuda, tubuhnya memang tidak terlalu tinggi namun membentuk lekuk yang indah karena terawat baik, terutama payudaranya yang montok bulat menjadi salah satu daya tariknya, selain itu kulitnya juga putih mulus, tidak pucat dan berbercak merah seperti beberapa bule lain. Kaos you can see warna kelabu dipadu dengan celana pendek hijau yang menggantung sejengkal dari lututnya semakin memperlihatkan keindahan tubuhnya sehingga tidak heran sempat membuat si tukang bakso ini terpana ketika ia datang tadi. “Kata orang, tempat ini makanannya enak, jadi saya ke sini!” katanya setelah memesan seporsi yamien asin dengan bakso tenis. “Hehe...makasih Non, orang terlalu melebih-lebihkan saja, ini cuma warung sederhana kok” kata Pak Fahri merendah sambil membuatkan pesanan gadis bule itu, “nah silakan Non!” ia lalu menghidangkan pesanan gadis itu. Semangkok mie bertabur bawang goreng, cacahan daging dan dihias daun seledri beserta semangkuk sup berisi 2 butir bakso tenis ditambah segelas teh hangat yang menggugah selera kini tersaji di depan Jill. “Thank you, saya makan dulu Pak!” katanya tersenyum. Pertama kali makanan tersebut datang, Gadis Australia itu mencicipi dulu kuah baso disusul mie-nya tanpa ditambah dulu dengan bumbu-bumbu lain. Setelah memanjakan mulut dengan beberapa suapan kecil kuah yang masih panas itu, Jill akhirnya menambahkan sedikit kecap manis, cuka, dan sedikit sambal. Gadis itu mengejapkan mata merasakan rasanya yang jadi lebih segar dan enak, terlebih setelah ia mengggigit potongan bakso tenisnya. “Bagaimana? Enak Non?” tanya Pak Fahri ingin mengetahui respon pelanggan mancanegaranya. Jill mengangguk, “very nice, ini enak sekali Pak!” katanya puas. “Hehehe...bagus deh, saya ke atas dulu yah sebentar” kata pria itu lalu masuk ke dalam. Ia naik ke atas sebentar untuk melihat keadaan putranya. Di atas ranjang, Hamzah telah terlelap sambil memeluk boneka teletubbies kesayangannya. Pak Fahri tersenyum melihat ekspresi polos anak semata wayangnya yang tengah terlelap lalu menutup pintu kamar dan kembali ke bawah. Saat itu hujan sudah turun sangat deras, sesekali kilat menyambar dan disusul bunyi guntur. Memang akhir-akhir ini sering hujan besar bahkan terkadang sampai banjir. Bagi Jill menikmati mie bakso hangat di tengah cuaca seperti ini menambah nikmatnya. Ia memang sangat menikmati perjalanan single backpacker perdananya ini, jiwanya seolah seperti burung yang terbang tinggi. “Apa ini Pak?” tanya gadis itu ketika Pak Fahri tiba-tiba meletakkan segelas minuman hangat di mejanya, ia agak bingung karena tidak memesannya. “Bonus dari saya Non...gak usah bayar, gratis, ini namanya bandrek, enak diminum kalau lagi hujan-hujan gini” kata pria itu. “You mean Free?” “No…. bukan free, bandrek Non… Bandrek.” Pak Fahri terlihat sekali kurang begitu dalam bahasa inggrisnya. Jill tertawa geli melihat gelagat pak Fahri yang mencoba menjelaskan dengan kalimat yang campur aduk bahasanya sambil menunjuk-nunjuk gelas minuman yang diberikannya. “Oh.. thank you very much, it looks good, kelihatannya enak… ” ia lalu menyeruput sedikit minuman yang masih panas itu, “mmm...enak, rasanya hangat!” Pak Fahri duduk di bangku di depan gadis itu. Sambil Jill menikmati makanannya pelan-pelan, mereka saling memperkenalkan diri dan mulai mengobrol . Ia bercerita banyak mengenai tempat-tempat yang telah dikunjungi di Indonesia serta kesan-kesannya. Karakter Jill yang supel dan penuh keingintahuan bertemu dengan Pak Fahri yang mampu mengimbangi pembicaraan gadis itu dengan cepat membuat suasana menjadi akrab. Pria itu menjelaskan situasi kota ini dan memberi rekomendasi mengenai tempat-tempat yang jangan dilewatkan untuk dikunjungi, juga saran dan masukan lain. Jill mendengarkan penuturan pria itu sambil mangut-mangut sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya, pak Fahri pun bilang kepada Jill, bahwa dia adalah turis yang paling cantik yang pernah datang mengunjungi warungnya. Mendengar sanjungan pria itu, Jill tersenyum simpul dan berterima kasih atas pujian itu. “Maaf permisi sebentar Non Jill, saya mau tutup warung dulu, ini udah waktunya” Pak Fahri permisi setelah melihat jam menunjukkan pukul tiga lebih seperempat. “Ooh sorry, sepertinya saya harus cepat-cepat menghabiskan makanan saya” kata Jill. “Ga...ga apa-apa Non makan santai aja dulu, lagian ini hujannya besar sekali, tunggu aja dulu di sini, kalau hujannya udah berhenti baru pergi” “Okay kalau begitu, saya tunggu” Pak Fahri pun menutup warungnya, ia menarik pintu lipat dari papan kayu itu lalu mencantelkan gembok tanpa menguncinya. “oh ya, Pak..istri bapak dimana?” tanya Jill setelah menghabiskan suapan terakhirnya. “sudah meninggal lama Non” “oh maaf, Pak..saya tidak tau, Pak…”. “nggak apa-apa kok Non..,saya cuma tinggal berdua sama anak..”. Jill mengangguk-anggukan kepala, “lalu anak bapak...?” “lagi tidak di sini” Hujan belum ada tanda-tanda mereda, Jill berpikir, apakah selama ini pria tua ini tidak pernah merasa kesepian tinggal sendirian. Selain itu, rasa kagum muncul di hatinya. Ia memandang pria di depannya ini sebagai seorang yang mampu bekerja keras, dan kelihatan begitu tegar meski sudah lama ditinggal istri dan membesarkan anaknya seorang diri. Sikapnya pun sopan, sedari tadi ia tidak mendapatinya mencuri-curi pandang tubuhnya seperti beberapa pria lain. Didorong rasa simpati dan kasihan, Jill ingin sekali membuat pria yang sangat baik dan sopan seperti Pak Fahri senang. Dalam pikirannya, hadiah yang mungkin akan membuat tukang bakso ini senang dan juga yang dia rasa paling tepat untuk pria yang benar-benar kesepian sepertinya adalah dengan memberikan tubuhnya agar pria itu bisa memenuhi kebutuhan biologisnya. Di saat yang sama, entah mengapa, ia merasakan libidonya bangkit, mungkin akibat situasi dan kondisi yang mendukung, hanya berduaan dengan pria dengan hujan deras di luar. Tapi, ia tidak ingin membuat dirinya nampak seperti pelacur dengan menawarkan diri terang-terangan. Namun, setelah dipikir-pikir, tak apalah, sebuah hadiah yang memang pantas ditawarkan untuk pria yang baik dan sopan seperti Pak Fahri. Secara fisik memang pria ini jauh dari tampan. Namun harus diakui badannya berotot karena terbiasa kerja keras, mungkinkah penisnya juga perkasa? “God, what am I fucking think?” omelnya dalam hati merasa nafsunya dengan cepat naik, “what's the matter with me? How could I imagine to have sex with him?” disingkirkannya pikiran itu dari benaknya Namun sebentar kemudian, pikiran tersebut menyergapnya lagi, menggodanya dengan bayangan-bayangan erotis yang tak seharusnya dia lamunkan. Jill merasakan putting susunya mulai mengeras di balik bra-nya, dirasakannya selangkangannya menjadi basah oleh birahinya dan nafasnya menjadi tersengal. Jill "Pak...eerr terima kasih atas bandrek dan keramahannya, saya jadi bingung bagaimana membalasnya" "Oohh...gak apa apa Bapak ikhlas kok, ga mengharapkan balasan apa-apa” “Memangnya bapak gak pernah merindukan kehangatan seorang wanita selama ini?” Jill mulai menggodanya. “Eng… tentu saja Non, biar gimanapun, saya ini khan seorang laki-laki normal.” “Don’t you think I’m pretty? Apa menurut bapak saya cantik?” gadis itu memajukan dadanya semakin memperlihatkan belahan payudara serta gunung kembarnya yang makin menonjol di balik kaosnya pada si tukang bakso yang duduk di hadapannya itu. “Non, ini… kenapa jadi begini?” Pak Fahri terlihat kikuk namun ia sudah tahu kalau jalan ceritanya bakal jadi begini. “Kalau tetangga tahu, saya bisa… “ Untuk beberapa saat, Jill tak mampu berkata apa-apa. Dia sudah berkelakuan layaknya seorang wanita jalang murahan di hadapan pria asing yang baru dikenalnya, begitu mudah ia mengucapkan kata-kata rayuan untuk menggodanya. Selintas ia malu akan dirinya dan benaknya memutar dengan keras untuk mendapatkan sebuah pembenaran atas tingkah lakunya tadi. Mark...ia teringat lagi mantan pacarnya yang ia tangkap basah sedang bercinta dengan wanita lain di ketika berkunjung ke flatnya. Ia langsung memutuskan Mark saat itu juga setelah melempar kalung pemberiannya ke wajah pemuda itu. Sedih dan marah mengisi hatinya mengingat penyelewengan orang yang pernah dicintainya itu sehingga ia merasa ingin melampiaskannya sekarang pada pria asing ini. “No one needs to know, gak ada yang perlu tau... saya malah jadi sungkan kalau bapak menolak, hhmmm...bagaimana kalau....” "kalau apa non???" "kalau saya...." Jill menghela nafas sejenak sebelum meneruskan, “kalau saya mencium bapak?” suaranya sedikit bergetar saat dia memandang pria itu dan ia memutuskan untuk semakin maju, semakin berani Pria itu terhenyak, kaget namun ada senang juga. “Ahh...hehe Non Jill lagi bercanda kali ya, masa non masih muda dan cantik mau cium bapak yang sudah tua ini?” tanya Pak Fahri menahan diri. “Really... tidak bolehkah saya berterima kasih?“ jawab Jill lalu bangkit berdiri dan duduk di sebelah kanan pria itu. Pak Fahri makin berdebar-debar dibuatnya terlebih ketika gadis bule itu benar-benar memajukan wajahnya lalu bibirnya yang lembut mencium pipi kanan dan kirinya. Keduanya saling bertatapan lama, hening sejenak, hanya terdengar suara hujan deras di luar dan hanya mereka berdua di ruangan itu. Wajah mereka saling mendekat lagi, Jill mencium bibir tebal Pak Fahri dengan lembut, cukup lama. Si tukang bakso terdiam, ia biarkan bibir ranum gadis bule itu mengecup bibirnya dengan lembut. Tak lama kemudian barulah ia membalas ciuman gadis bule itu. Percumbuan mereka semakin dipenuhi nafsu birahi. Pak Fahri mengeluarkan lidahnya, berusaha memasuki rongga bibir Jill. Gadis itu pun membalas tak kalah liar, lidah mereka saling bertemu dan mereka berciuman dengan penuh nafsu. Lidah mereka saling melilit dan air ludah mereka tercampur, hingga menetes ke pipi masing-masing. Mereka saling berciuman amat panasnya, nafas mereka mulai terengah-engah karena nafsu. Kedua tangan Jill melingkari leher pria itu sementara tangan kokoh Pak Fahri juga mulai mendekap tubuh Jill dan membelai punggungnya. Seiring nafsu yang semakin membuncah, Pak Fahri mulai berani meraba buah dada Jill yang semakin menggelinjang mendapat sentuhan di daerah sensitifnya itu. Tangan pria itu meremas pelan kedua payudara sekal Jill dari luar kaos u can see-nya. Birahi Pak Fahri semakin menggelegak, ciumannya mulai merambat ke leher jenjang gadis bule itu dengan rakus. Hal yang sama juga dirasakan oleh Jill, ia mendesah keenakan. Matanya terpejam meresapi setiap rangsangan dari si tukang bakso itu. Ia memegang kepala Pak Fahri dan meremas rambutnya. “Oohh … it feels good, enak pak, “ desahan keluar dari mulut bule cantik itu merasakan lidah Pak Fahri menyapu telak lehernya dan menciumi telinganya. Pak Fahri semakin beringas, kedua tangan yang tadinya meremas payudara Jill kini berusaha menyingkap ke atas kaosnya sehingga terlihatlah payudara montoknya yang masih dibungkus bra warna hitam. Tak ada penolakan dari gadis itu ketika Pak Fahri menyentuh payudaranya. Kini Jill yang melepaskan pergumulan mereka dan menatap pria itu dengan tatapan sayu. “Saya mau tanya, Bapak rindu sama istri?” tanyanya dengan nafas memburu “eeehh...iya, kangen sih Non....ini...kita”. “kalau gitu, sekarang ini bapak anggap saja saya istri bapak..” katanya “saya akan nemenin bapak..” ia meletakkan tangan Pak Fahri di paha kanannya. “jadi...maksud Non Jill, bapak boleh….gini?” Pak Fahri mulai mengelus-elus paha mulus itu, Jill mengangguk dan tersenyum. Elusan tangan pria itu semakin dalam merayapi paha Jill, sungguh halus kulit gadis Australia ini. Pak Fahri terus mengelus-elus paha Jill sambil tangan satunya meremasi payudara gadis itu. Ia menyusupkan tangannya ke dalam, menyentuh paha bagian dalam Jill. “hmmm…”, lirih Jill sambil tetap tersenyum. Elusan-elusan si tukang bakso sedikit demi sedikit membangunkan gairah Jill. Dengan lembut dan perlahan belaian pria itu telah sampai di selangkangan. Meski sudah lama tidak bermain seks, insting pejantannya masih ada, dia tahu bagaimana membangkitkan gairah seorang wanita. Tangan kasarnya terus mengelusi kedua pangkal paha Jill, nafas gadis itu dibuatnya semakin berat. “eemmhhh…”, Jill sedikit bergetar saat Pak Fahri mulai merabai bagian tengah selangkangannya, meskipun masih tertutup celana, belaian itu begitu terasa dan menghanyutkan. “Non Jill…boleh saya buka aja beha-nya?” Pak Fahri meminta ijin sambil meremas payudara kiri gadis itu “Of course..”, jawab Jill sambil tersenyum. Gadis itu lalu menggerakkan tangannya ke belakang meraih kaitan bra-nya dan melepasnya. Pak Fahri perlahan melepaskan kaos beserta bra gadis itu yang telah terbuka, Jill mengangkat kedua lengannya membiarkan penutup tubuh atasnya itu melolosi tubuhnya. Mata Pak Fahri tak bisa lepas dari pemandangan yang begitu indah yang ada di depannya. Kedua gunung kembar Jill yang tadi tersembunyi di balik cup bra kini terekspos jelas, bulat montok dengan putingnya yang coklat. Ditambah lagi dengan lekuk-lekuk tubuh gadis itu yang sempurna, perut rata, kulit yang putih dan mulus. Pak Fahri belum pernah melihat tubuh wanita yang begitu indah dan sangat sempurna sehingga matanya nanar seperti mau lepas dari rongga matanya. Tak tahan, dengan penuh nafsu, ia mengarahkan kepalanya ke sana. Sambil terus meremas-remas, ia mengenyoti kedua payudara montok Jill, mulut gadis itu menceracau tak jelas dalam bahasa Inggris. Jemari tangan kiri Pak Fahri terus memilin puting payudaranya hingga jadi semakin mencuat kemerahan, sedang mulutnya mengecupi yang satunya lagi. Diperlakukan seperti itu, tentu membuat desahan nikmat Jill semakin terdengar keras. Gadis bule itu menggeliat geli sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dan memegangi kepala si tukang bakso yang terus menyusu di bulatan payudaranya. Tangan Pak Fahri mulai turun ke arah perutnya dan terus ke menyusup masuk ke balik celananya, ia merasakan permukaan vagina gadis itu mulus tidak berbulu. ”Ahh...” desah Jill ketika jemari pria itu menyentuh wilayah segitiga emasnya yang sudah basah. Pak Fahri semakin berani menggerayangi alat kelamin gadis bule cantik itu. Jari tengahnya tepat ‘membelah’ bibir vagina Jill, lalu menggerakkannya ke atas dan bawah untuk semakin meningkatkan birahi gadis itu. Seiring dengan gesekan jari pria itu di belahan vaginanya, kedua pahanya semakin membuka lebar. “uummhhh heemmhhh…”, gumam Jill dengan mata terpejam, sementara Pak Fahri tersenyum, tangannya terasa semakin panas sekaligus lembap. Tiba-tiba Jill melenguh lebih panjang dan menggeliatkan tubuh saat merasakan ada sesuatu benda yang masuk ke dalam vaginanya, benda itu berputar-putar seperti sedang mengebor vaginanya. Senyum pria itu makin lebar melihat reaksi sang gadis, jari telunjuknya menyusul masuk ke dalam liang vagina Jill. Keadaan terus berlanjut, kedua jari pria itu bergerak keluar masuk menggeseki dinding vagina dan klitoris gadis itu. Yang terdengar kini hanyalah suara desahan pelan Jill di tengah bunyi hujan deras di luar. Ia memegangi tangan pria itu agar tetap berada di sana, tetap mengerjai vaginanya. Tangan kanan Pak Fahri bergerak ke arah dadanya dan menangkap bongkahan indah tersebut.Sementara tangan Jill secara refleks, juga meremasi batang kemaluan Pak Fahri yang masih tersimpan rapi di balik celananya.


Share On Facebook
Share On Twitter

Kategori: Cerita Abg, Cerita Selingkuh,

Belum ada komentar