Kehangatan Ngentot Dengan Pedagang Bakso-2

Oleh Cerita 17 Tahun Pada 16 November 2015 - 00:53

“Tunggu sebentar...” tiba-tiba gadis bule itu mengeluarkan tangan pria itu dari celananya dan bangkit berdiri. Pak Fahri terpana menyaksikan Jill dengan gerakan erotis melepas celananya sendiri. Gadis itu lalu menaikkan pinggulnya ke tepi meja tepat di hadapannya. Yang paling menarik perhatiannya tentu daerah segitiganya, begitu bersih, tanpa bulu yang menutupinya, dan kelihatan sangat menggiurkan. Sungguh kewanitaan yang begitu indah, bibir vaginanya berwarna seperti kulit di sekitarnya dan masih rapat walaupun sudah bukan perawan. “Bapak suka?” tanya Jill sambil mengangkangkan kaki lebih lebar lagi, memamerkan belahan vaginanya yang sudah merekah indah kepada pria itu. “Ehehehe....iyahh “ gumam Pak Fahri mengagguk-angguk “Nikmati Pak...bikin saya puas!” sahut gadis bule itu lirih, matanya sayu dan wajahnya bersemu kemerahan akibat birahi yang makin tak terkendali. Tak perlu menunggu lama lagi, Pak Fahri sudah membenamkan wajahnya di selangkangan Jill, dihirupnya dalam-dalam kewanitaan itu. “hmmhh…”, desah Jill merasakan hangat dan basah mengenai vaginanya. Jelas itu lidah Pak Fahri, belaian-belaian nakalnya di daerah pribadinya sungguh menghanyutkan Jill dalam arus kenikmatan. Tanpa sadar, kaki kanan Jill disampirkan ke atas bahu kiri pria itu. Tanpa mampir ke otaknya, tubuh gadis itu merespon kenikmatan yang sedang ia rasakan secara alamiah. Dengan meletakkan satu kaki di bahu si tukang bakso, tentu selangkangannya akan semakin terbuka dan ia akan semakin leluasa dan semakin banyak memberikan kenikmatan. Benar saja, pintu surga dunianya semakin terbuka, Pak Fahri pun semakin gencar menyerbu wilayah terlarang itu. Dengan rakusnya, ia melahap vagina Jill habis-habisan. Tak henti-hentinya, lidah pria itu menyapu setiap jengkal dari daerah segitiga yang mulus tak berbulu itu, lidahnya terus menggali, menggali, dan menggali lebih dalam lagi ‘tambang’ yang ada di hadapannya sehingga Jill pun menggeleng-gelengkan kepala, menggeliat-geliat, kedua pahanya semakin menjepit kepala pria itu. “aaaahhh ooouuhhh yesss...more...” Jill pun menekan dan menahan kepala Pak Fahri di selangkangannya. Vaginanya menjadi bulan-bulanan si tukang bakso yang kegirangan mendapat rejeki nomplok seperti itu. Terkurung di antara paha mulus itu tentu membuat Pak Fahri bersemangat. Pandangannya tertutup vagina gadis itu dan hidungnya hanya mencium aroma khas liang sorgawi, sungguh keadaan ‘terjepit’ yang paling menyenangkan bagi pria itu. Jill benar-benar terhanyut, meresapi kenikmatan luar biasa yang dirasakannya pada bagian bawah tubuhnya. “AAAKKKHHHH !!”, Jill mengerang panjang, kedua pahanya menjepit kepala Pak Fahri dengan sangat kencang, perutnya agak ke atas Kucuran cairan yang berasal dari kewanitaan gadis Australia itu tak ubahnya bagai air mata yang menyegarkan dahaga Pak Fahri. Pria itu menyeruput habis habis dalam hitungan detik saja, lidahnya pun mengorek-ngorek sisa cairan yang tertinggal di dalam rongga vagina gadis itu. Pria ini ternyata cukup mengetahui bagaimana cara memberi kenikmatan sensual pada wanita. “Non Jill…”, ujar Pak Fahri mengelus-elus paha gadis bule itu. Jill tersenyum puas dan merundukkan tubuhnya, Pak Fahri pun langsung berdiri memeluk tubuhnya. Keduanya berpelukan begitu erat menciptakan pemandangan yang sensual dan erotis. Kekontrasan di antara dua insan manusia itu justru menambah aura erotis dan sensual yang ada. Jill, si gadis bule yang begitu cantik dan putih mulus sudah telanjang bulat sepenuhnya, memeluk Pak Fahri, pria gempal setengah baya dan berkulit gelap dan masih berpakaian lengkap. “mmm…ccpphhh..mmm…”. Ciuman yang terjadi begitu mesra dan kompak. Keduanya bergantian saling lumat dan pagut. Bibir Jill yang lembut membuat pak Fahri benar-benar gemas. Dilumat, dihisap, dikenyot, dikulum, bibir Jill habis-habisan diserbu Pak Fahri. Lidah keduanya pun tak jarang saling belit, saling kait, dan saling silang. “hmmm…mmm…”. Terlihat jelas sekali kalau tak hanya Pak Fahri yang menikmati percumbuan ini, tapi Jill juga sangat, sangat menikmatinya. Rambut Jill pun menutupi sisi kiri dan kanan seperti tirai/hordeng yang menutupi bibir mereka berdua yang menyatu seakan tak ingin ada seorang pun yang melihat percumbuan mereka. “Uuah..”, Jill mengatur nafasnya setelah melepaskan bibirnya dari bibir Pak Fahri dan menegakkan tubuhnya. Kini ia ingin sekali melihat kejantanan Pak Fahri. Tubuh pria ini nampak bugar dan kekar, pastilah senjata di balik celananya itu perkasa, sebuah batang yang hitam, besar, dan berurat terbayang di pikiran Jill. Semakin ‘gatal’ rasanya sehingga tangannya pun semakin aktif, setelah membuka pakaian atas Pak Fahri, tangannya merayap ke bawah meremas selangkangan pria itu yang telah menggelembung, ia menggenggam sesuatu yang keras. “Sebentar yah Non!” kata Pak Fahri lalu dengan sangat tergesa-gesa, ia membuka celana dan celana dalamnya sendiri. Kedua mata Jill langsung tertuju ke benda yang menggantung di tengah-tengah selangkangan pria itu, benda itu begitu kokoh, panjang, dengan ujung bersunat, gadis itu menelan ludah membayangkan batang perkasa itu mengaduk-aduk vaginanya. “masukkin Pak…”, Jill yang birahinya sudah meledak-ledak meminta pria itu untuk menjejali vaginanya dengan benda itu. Kedua kaki gadis bule itu terbuka dengan sangat lebar, Jill juga menyibakkan bibir vaginanya sendiri seolah mengundang penis Pak Fahri agar segera masuk ke dalam. Tanpa buang waktu lagi, kepala penis pria itu pun sudah menempel di bibir vagina Jill. “Oh yesss....eeemmm”, desah Jill ketika pria itu memajukan pinggulnya perlahan, kepala penisnya mulai mendobrak masuk ke dalam liang kewanitaannya. Jill merasa bagian bawah tubuhnya benar-benar penuh sesak dengan batang besar milik Pak Fahri yang semakin melesak masuk. Sensasi yang luar biasa pun dirasakan Pak Fahri, penisnya terasa begitu terjepit dan terasa seperti diurut-urut. Setelah beberapa kali tarik-dorong, akhirnya seluruh batang penisnya berhasil menancap di dalam liang vagina gadis bule itu dengan sangat kokoh. Ia diam sejenak untuk menikmati liang vagina Jill yang begitu hangat dan peret, penisnya seperti dicengkram dengan sangat kuat oleh dinding vagina gadis itu. Belum lagi rasa hangat yang menyelimuti batangnya. Desahan-desahan pelan mulai mengalun dari mulut Jill saat tukang bakso itu mulai menggerakkan pinggulnya. Dengan lembut, pria itu terus berusaha memompa penisnya dengan perlahan. “sshh ooouuhh uummhh..yeaaah!!!”, racau Jill merasakan sensasi nikmat dari vaginanya yang dirojok-rojok. Sementara Pak Fahri terus menggasak liang vagina Jill. Ia menyodoknya dengan penuh perasaan namun cukup kuat untuk membuat gadis bule itu tersentak-sentak. “ookkhh…aahhh....God i like it!!”, Jill mengerang lebih nyaring saat Pak Fahri menyodok vaginanya sampai mentok. Tukang bakso itu terus menggenjot dengan ritme sedang agar Jill yang sedang digenjotnya juga menikmatinya. Gadis itu meletakkan kedua telapak tangannya pada meja sehingga buah dadanya nampak membusung menantang. Pak Fahri pun menangkupkan kedua tangannya dan menggenggam kedua gunung kembar itu. Ia remasi payudara Jill yang terasa sangat empuk dan kenyal itu. Kedua kaki indah Jill melingkar erat di pinggang Pak Fahri. Merasa gadis itu semakin terhanyut dalam kenikmatan, Pak Fahri mulai mempercepat genjotannya. “I’m coming....yyaahhh...sshhh...aaahh...aahhhh!!!”, Jill mengerang panjang saat gelombang orgasme melanda tubuhnya, pria itu terus menyodok-nyodokkan penisnya berusaha menyusulnya ke puncak. Hujan masih deras di luar sana mengaburkan bunyi pergulatan seks di kedai tersebut, nafas keduanya menderu-deru, bulir-bulir keringat keduanya telah membasahi tubuh masing-masing. Kedua insan beda ras beda negara itu bercinta dengan sangat bergairah, begitu menggelora. Desahan-desahan penuh kenikmatan keluar dari mulut keduanya. Keduanya saling berpelukan dengan erat sementara alat kelamin mereka terus bergesekkan semakin cepat dan tanpa henti sampai lima menitan kemudian... “OOKKHH...Non Jill...enakkkhhh !!!!”, erang Pak Fahri melepas orgasmenya, ia akhirnya berhasil menyusul gadis itu ke puncak kenikmatan. Jill akhirnya bisa bernafas lega setelah pria itu menghentikan sodokannya. Keduanya sama-sama meraih puncak kenikmatan yang mereka bangun bersama. Rasa hangat dan becek terasa oleh di liang kewanitaannya. Tubuh Jill terkulai lemas di meja sehabis mendapatkan orgasme tadi. Wajah cantiknya nan sendu itu menatap Pak Fahri dengan senyuman puas. Pak Fahri membaringkan tubuhnya disamping gadis bule itu dan dia mengusap-usap buah dadanya lembut. Jill memainkan jari-jarinya di penis pak Fahri yang sudah lemas kembali, tapi si penis belum juga mau bangkit kembali. Setelah beristirahat beberapa saat, Jill menggeser tubuhnya turun dari meja dan bersimpuh di antara kedua paha Pak Fahri. Ditatapnya sejenak penis yang setengah bangun itu, lalu dikocoknya perlahan benda itu dan dimasukkannya ke dalam mulutnya. “Uugghh…” lenguh Pak Fahri merasakana sensasi geli setiap kali gadis itu menghisap penisnya. Ketika penisnya mengeras lagi, dikeluarkannya benda itu dari mulutnya dan disapukannya lidahnya dari pangkal hingga ke ujungnya. Dikenyot-kenyotnya buah zakarnya dan disapukannya lidahnya lagi ke batangnya yang berurat. Pak Fahri menikmati permainan mulut dan lidahnya dengan mengelusi rambut gadis itu, ia melihat bagaimana gadis bule itu menservis senjatanya. “Non, udah dulu, nanti keburu keluar, sekarang Non nungging aja!” kata Pak Fahri beberapa menit kemudian karena tidak ingin buru-buru ejakulasi “Oke...I see, saya siap mulai lagi!” sambil tersenyum Jill melakukan perintah pria itu. Ia membungkukkan badan dengan kedua tangan berpegangan di pinggir meja. Menganggap gadis itu sudah siap,Pak Fahri segera memasukkan penisnya ke lubang vaginanya dari arah belakang, vagina yang sudah becek itu menelan penis itu dengan mudah. Dengan berpegangan pada pinggang Jill yang ramping, ia pun mulai menggerakkan badannya maju mundur. Batang penisnya kembali menghentak-hentak keluar-masuk di lorong vaginanya, mula-mula dengan perlahan-lahan, namun makin lama semakin bertambah temponya. Sesungguhnya Jill belum benar-benar lepas dari buaian orgasmenya. Vaginanya masih terasa gatal dan setiap gerakan, betapa pun kecilnya, menyebabkan kegelian itu menjalar ke mana-mana di tubuhnya. Dengan cepat ia merasa birahinya sudah bangkit kembali, dan tanpa sadar ia mulai menggoyang-memutar pinggulnya, membuat penis Pak Fahri yang serasa diaduk-aduk di liang kewanitaannya. Tubuh Jill mulai terguncang-guncang dan dari mulutnya kembali terdengar desahan sensual ”Ough... aahhh, more Pak...aaawww” jeritnya kecil ketika tangan pria itu menampar bongkahan pantatnya yang menggemaskan, “Bapak nakal...aahh...” ia menengok ke belakang. “Ehehehe...abis gak tahan Non, montok banget..ssshhh...sshh!!” kata pria itu sambil terus menggenjot dan plak...sekali lagi ia menampar pantat Jill yang sebelah seperti penunggang kuda memecut tunggangannya. Selama beberapa saat Pak Fahri menyetubuhi Jill dengan cepat dan bertenaga, hingga akhirnya ia pelankan helaannya dan meraih payudara gadis itu untuk diremas-remas. Sesudah itu ia naikkan lagi tempo genjotannya. Akibatnya Jill pun mulai ribut lagi ”Uughh... ughh... oughh...” Jeritan gadis itu semakin membangkitkan nafsunya, sehingga ia menggoyang tubuhnya semakin cepat dan makin bertenaga. Tak lama kemudian, akhirnya gelombang orgasme menerpa bak tsunami meluluh-lantakan segalanya. Pak Fahri menggeram-mengerang keras, menghujam cepat dan pendek berkali-kali. “Uuuhhh...keluar enakkkhh!!” ia mengerang-menggeram, menegakkan tubuhnya sambil menghujamkan penisnya dalam-dalam, menumpahkan cairan kental panas ke vagina Jill yang telah berdenyat-denyut. Sementara Jill membelalakkan mata dengan pandangan kosong merasakan sebuah kenikmatan luar biasa menyergap tubuhnya. Lalu pandangannya mengabur dan merasakan tubuhnya seperti melayang-layang..Kenikmatan yang bertubi-tubi menghempas tubuhnya sedemikian rupa sehingga ia tidak lagi bisa merasakan ketika penis pria itu memuncratkan cairan kental panas mengisi seluruh bagian dalam kewanitaannya, membuat liang sorgawi itu penuh. Saat penis pria itu tercabut dari liang kewanitaannya, cairan cinta berleleran di sela-sela paha gadis itu. Jill hanya bisa terpejam dan mengerang pelan, nyaris tak terdengar. Ia menjatuhkan tubuh ke kursi terdekat dan bersandar dengan nafas naik-turun. Cairan putih kental nampak meleleh dari vaginanya yang mekangkang membasahi kursi di bawahnya “Owh...how wonderful!” gumam gadis itu dalam hati Dipandangnya Pak Fahri yang juga terduduk lemas di kursi seberangnya, penis pria itu nampak menyusut setelah orgasme dahsyat tadi. Lama juga keduanya terduduk lemas dengan tubuh berkeringat di kursi. Pak Fahri yang bangkit duluan menawarkan minuman pada gadis itu. "Mau minum apa Non? Bapak ambilin!" tawarnya "Oh,...saya rasa saya perlu yang menyegarkan!” jawab Jill tersenyum lemah Pak Fahri berjalan menuju lemari penyimpanan minuman di sudut warung, dua botol teh botol Sosro dingin segera diraihnya. Setelah membuka tutupnya dan memasukkan sedotan, ia menghampiri Jill dan menyodorkan botol tersebut. Dengan lahap gadis Australia itu meneguk minuman yang menyegarkan itu. Sekejap kemudian botol sudah kosong. “Hujannya sudah kecil” kata Jill mendengar suara hujan di luar mulai mereda, sudah tidak ada lagi suara guntur, namun masih turun rintik-rintik, “saya rasa saya sudah bisa berangkat” “Masih belum bener-bener berenti Non” kata tukang bakso itu, “sambil nunggu Non mau lihat-lihat ke belakang? Tempat saya bikin bakso?” tanyanya. “Ah tentu saja, saya senang sekali mempelajarinya!” sahut Jill antusias, ia bangkit dari kursi dan meraih celananya. “Ehh...ga usah Non, ga usah dipake dulul, takutnya di dalam kotor” Pak Fahri mencegah gadis itu yang hendak memakai kembali pakaiannya, “lagian Non lebih cantik kalau gak pakai apa-apa kok” “Hahaha...” Jill tertawa lepas, “Bapak ini pintar merayu ya....baiklah kalau begitu saya tidak akan pakai dulu bajunya” Akhirnya gadis itu mengikuti pria itu ke belakang hanya dengan memakai sepatu dan kaos kakinya yang sedari tadi belum dilepas. Inilah rupanya tempat pria ini mengolah makanan yang menjadi dagangannya itu. Ruangan yang berukuran sedang itu tertata bersih dan rapi. Di sana terdapat sebuah alat penggiling daging, sebuah rak yang di dalamnya berisi toples-toples kecil bumbu masakan, sebuah lemari pendingin berukuran sedang untuk menyimpan persediaan daging, tungku memasak, serta peralatan masak yang menggantung dan tergeletak di meja. Pak Fahri menjelaskan sepintas alat-alat yang ada di sana dan cara-cara mengolah bakso supaya menjadi enak. Jill berjalan ke sebuah jendela di belakang, ia menggeser tirainya sedikit sehingga ia dapat melihat keluar, ke arah sebuah kebun kecil di belakang sana. Pak Fahri berdiri di belakangnya, menjelaskan bahwa di sana ia menanam beberapa jenis tanaman yang dibutuhkan untuk bumbu seperti cabe, bawang, daun seledri, dll. Dengan menanam secara mandiri harga pun dapat ditekan sehingga lebih ringan di tangan pembeli. Jill berdecak-decak kagum mendengar penjelasan pria itu, ia memang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi mengenai hal-hal baru. Sambil membicarakan tanaman, Jill merasakan tubuh pria itu dekat sekali di belakangnya, sangat dekat bahkan. Sebuah aliran birahi samar-samar kembali menjalari tubuh gadis itu. Ia menengok ke sebelah mendapati sebuah meja panjang dengan marmer hitam panjang di atasnya, tingginya sepinggang orang dewasa lebih sedikit. Lantai di bawahnya berlapis tegel kuning dengan kisi-kisi pembuangan air di sudutnya. “Ini tempat nyembelih Non” kata pria itu menerangkan. “Nyembelih?” tanya Jill “Eeemmm...motong maksudnya...” pria itu memperagakan gerakan memotong daging, “daging besar dipotong di sini jadi kecil-kecil, hehe gitu maksudnya!” Jill mengangguk-angguk. “Oh iya, Non Jill mau saya bersihin gak sebelum pergi? Biar segar badannya” kata pria itu seraya mengambil selang berwarna hijau yang terhubung pada kran ledeng dekat situ, “ini biasa buat bersihin daging, tapi airnya bersih kok” Gadis itu tersenyum, “Bapak mau bersihin saya atau mau pegang-pegang badan saya lagi?” godanya. “Hahaha...mungkin dua-duanya Non, ya kan kalau bersihin ya harus pegang-pegang dong supaya lebih bersih. Gimana Non? Kalau Non gak keberatan, berbaring aja di sini, biar Bapak bersihin” katanya sambil menepuk-nepuk meja marmer itu. Jill terdiam sejenak, aneh juga harus melakukannya di meja jagal. Namun ia kemudian tersenyum. “Haha...saya jadi merasa seperti hewan mau dipotong, selera anda memang funny Pak!” katanya sambil melepaskan sepatu dan kaos kakinya dan naik ke meja tersebut, “oke...Pak silakan bersihkan badan saya!” ia terbaring telentang pasrah tanpa sehelai benangpun. Pak Fahri mulai menyiramkan air ke tubuhnya, menggosokinya dengan lembut membuat gadis itu merasa nyaman. Siraman air dingin dari selang itu memberinya kesegaran dan sentuhan-sentuhan erotis pria itu membuatnya terbuai, ia merasakan aliran sensual merayapi tubuhnya, apakah ronde berikutnya akan dimulai? Ia belum tahu pasti. Matanya terpejam menghayati tangan pria itu membersihkan tubuhnya. Siraman air tidak terasa lagi, sebagai gantinya tiba-tiba ia merasakan bibir pria itu menempel di bibirnya. Serta merta ia pun menyambutnya dengan hangat, lidah mereka saling belit selama beberapa saat hingga pria itu menarik lidahnya, sepertinya hendak mengakhiri percumbuan. Tiba-tiba jret....takk....!!! terdengar suara daging terpotong dan disusul bunyi logam beradu dengan meja marmer di bawahnya. Mata Jill yang terpejam langsung membelakak, ia tidak sempat menyadari apa yang terjadi karena kepalanya telah terpisah dari tubuhnya. Pak Fahri menjenggut rambut panjang gadis itu dan mengangkat kepalanya yang terpotong sambil terus mencium bibirnya selama beberapa detik. “Mmmhhh...” ia melepas ciumannya dan menatap potongan kepala gadis itu yang masih membelakakkan matanya, “maaf yah Non, Bapak lagi butuh daging gadis muda yang rasanya enak itu, Non datang di saat yang tepat membawa daging impor lagi hehehehe...” Ia lalu meletakkan kepala itu di atas meja di sebelahnya dan mulai beralih ke arah tubuhnya yang masih mengucurkan darah dengan deras pada potongan lehernya. Lelehan darah membasahi lantai di bawahnya mengalir bersama sisa air ke saluran pembuangan air. Tanpa membersihkan cipratan darah pada wajah dan tubuhnya lebih dulu, Pak Fahri mulai memposisikan ujung golok dagingnya pada ulu hati tubuh tak berkepala itu lalu ia tekan dan tarik hingga membelah perut yang mulus dan rata itu. Kembali darah tercurah membasahi meja. Hati, jantung, usus, semuanya jelas terpampang dihadapannya. Dengan tenang seperti melakukan pekerjaan biasa, ia mengeluarkan isi perut Jill dan menampungnya pada sebuah baskom besar. Kemudian, bagaikan seorang tukang daging di pasar, pria itu dengan santai memotong buah dada Jill dan memotong daging dari bagian tubuh lainnya yang telah ia pilah-pilah lalu ditampung di sebuah baskom lainnya. Daging-daging terpilih itu ia cuci hingga bersih dari darah lalu dibawanya ke arah mesin penggiling. Mesin dinyalakan, satu-persatu potongan daging manusia itu ia masukkan ke lubang di atas mesin yang lalu secara otomatis mengelurkan hasil gilingannya ke baskom lainnya. Total didapat dua baskom ukuran sedang dari daging yang masih ‘segar’ tersebut. Kembali ke meja penjagalan di mana tubuh Jill sudah tidak berbentuk lagi. Tubuh gadis malang itu kini hanya berupa bagian-bagian yang terpisah-pisah. Kaki, tangan, serta tubuh telah terpotong-potong menjadi beberapa bagian, beberapa di antaranya sudah tinggal berupa tulang yang masih bermandikan darah, sementara kepala gadis itu tergeletak di meja lain, matanya yang membelakak menatap ke arah tubuhnya yang sudah tidak utuh lagi. Pemandangan menjijikkan itu nampaknya bagi Pak Fahri merupakan hal yang biasa saja, tanpa tergesa-gesa ia membereskan sisa pekerjaannya. Daging yang tersisa ia sayat hingga habis dan ia letakkan di wadah lain. Kurang lebih setengah jam kemudian yang tersisa tinggal tulang-belulang merah darah. Pria itu mengambil sebuah plastik hitam besar yang biasa dipakai untuk membuang sampah lalu memasukkan tulang-tulang itu ke dalamnya. Terdengar suara langkah menuruni tangga dari ruangan sebelah. “Pak...Bapak!!” terdengar suara Hamzah memanggil ayahnya. “Sini Nak! Bapak lagi sibuk! Tolong bantuin Bapak dong!” sahut Pak Fahri menanggapi panggilan anaknya itu. Hamzah menemui ayahnya yang masih telanjang dengan tubuh berlumuran darah itu di dapur belakang, namun tampaknya pemuda keterbelakangan mental itu tidak merasa ngeri ataupun kaget. “Bapak lagi potong daging? Ehehehe!” ia tertawa polos sambil memeluk boneka Telletubies merah kesayangannya. “Iya, kamu datang tepat waktu nak.” pak Fahri berkata sambil merenggut rambut kepala Jill yang bertengger di atas meja di sampingnya, masih dengan mimik wajahnya yang terkejut dengan mata membelalak lebar. “Cepat, yang ini masih segar.” Katanya sebelum melempar kepala itu ke arah Hamzah yang buru-buru melepas bonekanya dan menangkap kepala gadis malang itu. “Hehehe, yang ini cantik pak. Kok rasanya sayang kalo di…” “Halaaah, sudah gak usah banyak omong. Nanti keburu telat, ini semua buat kebaikan kamu juga nak. Ayo, kamu udah tau caranya khan?” “Iya pak, Hamzah ngerti.” Dengan santainya pemuda itu meletakkan kepala Jill di atas sebuah talenan kayu yang cukup besar dengan posisi wajah yang menghadap ke arahnya. Kemudian meraih sebilah pisau daging yang sudah tajam terasah, diangkatnya tinggi-tinggi pisau itu. “Awas nak, jangan sampai berceceran. Sayang kalau terbuang.” “Iya pak.” Sahut si pemuda dengan seringai polos di wajahnya, yang entah bagaimana tampak mengerikan di sinari lampu redup bohlam berwarna kuning yang menggantung dengan malasnya di atas dapur si tukang jagal itu. Dengan satu kali ayunan di tetakkannya pisau daging itu di ubun-ubun kepala si gadis malang, kemudian dengan jari-jari pada kedua tangannya pemuda itu mengoyak tengkorak kepalanya hingga terbelah. Dengan satu tangan diraupnya sebongkah otak yang masih berdetak dari dalam tempurung kepala Jill. Diangkatnya gumpalan otak itu tinggi-tinggi seolah memamerkan pada ayahnya, “Pak… masih hangat pak.” “Bagus nak, ayo dihabiskan. Biar kamu tambah pinter.” Sahut Pak Fahri menyemangati anaknya. Pak Fahri berjalan ke arah rak hendak mengambil bumbu dan alat masak lain, dipungutnya boneka Telletubies yang tadi dijatuhkan Hamzah ketika menangkap kepala Jill. Ia letakkan boneka tersebut di meja, namun wajahnya jadi terkejut melihat sesuatu di layar pada perut boneka itu yang dapat diselipkan sesuatu. “Loh nak...ini kok bisa disini sih?” tanyanya pada Hamzah seraya mengeluarkan SIM yang terselip di perut Telletubies yang berlayar itu. Hamzah yang tengah menyendok otak Jill seperti makan puding itu menengok sejenak,”Ooohh...itu punya om yang Hamzah tusbol itu” “Iya tau...yang bapak tanya, kok bisa benda ini ada di sini? Bapak kan udah larang keras untuk mengambil barang punya orang lain, itu dosa, tau?” pria itu terlihat agak marah pada anaknya dan memukulkan boneka itu ke kepala Hamzah. “Soalnya Pak....soalnya....” jawab Hamzah dengan gayanya yang lugu, “om itu kan gendut, imut, mirip boneka Hamzah....jadi...jadi....Hamzah kasiin ke dia, jadi boneka Hamzah punya nama sekarang...Hamzah bisa baca loh Pak, nih liat!” pemuda kelainan mental itu meraih SIM yang dipegang ayahnya, “Farrr....hat....aaa...basss! bener kan Pak? Jadi boneka ini Hamzah kasih nama Farhat” “Iya...iya...Hamzah pinter, tapi tetap ngambil barang orang lain itu gak boleh, ngerti?” tegas Pak Fahri yang dibalas anaknya dengan anggukan, “Bapak ambil ya kartu ini, ntar malem mau dibakar sama barang-barang di tas gede di warung depan, kamu ambil apa lagi nggak?” “Nggak Pak, Hamzah cuma ambil kartu itu aja, gak ambil apa-apa lagi,sumpah!” “Ya udah kamu terusin aja makannya dulu, abis itu bantu bapak beres-beres yah!” kata Pak Fahri seraya mengambil sebuah sendok dan beberapa bumbu masak, “eh iya...hati-hati nyendoknya, matanya jangan sampe rusak nak, besok mau bapak pake buat bikin sop mata kesukaan kamu” “Yee....asyyiikk...hore...Bapak mau bikin sop mata, kayanya bakal enak Pak, soalnya ini matanya bagus, warna ijo, Hamzah baru pernah liat yang kaya gini!” kata pemuda itu kegirangan sambil menatap mata Jill yang memandang kosong. *** Hampir seminggu sejak kedatangan Jill ke warung bakso pak Fahri, dan hampir seminggu pula warung baksonya dijejali oleh pelanggan baik tetap maupun barunya pak Fahri. Pelanggan yang datang lebih ramai bila dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. “Baksonya tambah enak aja pak Fahri, resep baru ya?” celetuk seorang bapak pekerja kantoran yang merupakan pelanggan tetap yang tengah sibuk menikmati satu porsi bakso yang terhidang di hadapannya. “Biasa aja kok Pak, masih resep warisan, dagingnya aja yang lagi bagus.” “Pake daging apa emang pak? Sapi impor ya?” timpal rekan kerja si bapak yang duduk di sebelahnya. “Yah, gitulah Pak.” Jawab pak Fahri yang disertai beberapa gelak tawa dari pelanggan-pelanggan yang ikut sibuk menikmati hidangan masing-masing. Tak berapa lama kemudian Luthfi datang dengan membawa seorang gadis. Usianya masih belia dan bila dilihat dari pakaian yang dikenakan oleh gadis ini sepertinya dia baru datang dari kampung. Kaos ketat murahan di balut dengan jaket jeans lusuh sebagai atasannya dan celana jeans ketat model legging yang terlihat agak kotor sebagai bawahannya. “Pak Fahri. Bapak masih butuh karyawan gak? Saya liat setelah si Nanik keluar berapa bulan lalu kan belum ada yang kerja lagi.” tanya Luthfi sambil melirik meja kerja pak Fahri mencari makanan yang sekiranya dapat di comoti. “Nah, yang kamu bawa ini siapa Fi? Saudaramu?”si gadis yang tahu tengah dibicarakan diam saja malu-malu dan kalau pak Fahri tak salah lihat, wajahnya seperti mau menangis. Buru-buru di tutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang kotor. “Bukan pak, ini cewek saya temuin lagi tidur di terminal bis waktu saya lagi markir. Dia dateng dari kampung, saya takut dia dikerjain sama anak-anak terminal. Makanya saya bawa dia kemari.” Jelas Luthfi yang terlihat agak sedikit kecewa karena tak ditemukannya makanan siap comot di meja pak Fahri. “Memangnya nama kamu siapa?” tanya pak Fahri ramah sambil mempersilahkan gadis kampung itu duduk. Gadis itu masih belum buka suara karena masih menahan tangisnya. Pak Fahri menyuruh Hamzah untuk menyuguhinya segelas air putih, gadis itu malu-malu menerima gelas yang disodorkan pemuda itu dan meminumnya. “Eh iya, Fi...mau kerupuk kulit gak? Ini baru aja digoreng dan dikemas pagi tadi...ambilin di dapur nak!” pintanya pada Hamzah. Sebentar saja Hamzah kembali dengan membawa beberapa kantong kerupuk kulit yang sudah dikemas dalam plastik kecil. “Masih garing terus kulitnya yang spesial kali ini, lembut tapi kriuk gitu, dicoba deh!” Pak Fahri menyodorkan sebungkus pada si preman tukang parkir itu. “Wah makasih nih, jadi ngerepotin? Dicoba dulu yah” ia menyobek kemasannya, mengambil sepotong kerupuk kulit itu dan kriuk....ia mengangguk-angguk merasakan kerupuk kulit yang gurih itu, “wahhh....top ini Pak, kulit sapi muda ya? Atau sapi impor? Nanti malem buat temen makan nasi goreng wuihh...pas banget tuh!” Pak Fahri tersenyum puas melihat krupuk kulit buatannya itu memuaskan selera yang memakannya, ia memberikan lima bungkus untuk Luthfi lalu pamit dengan hati gembira karena mendapat makanan gratis lagi. “Nah...udah tenang sekarang?” Pak Fahri kembali pada gadis kampung yang sudah mulai reda tangisnya itu, ia mulai mengangkat wajahnya yang menunduk, “kita kenalan aja dulu, nama bapak Fahri, nah itu putra bapak, namanya Hamzah, kalau adik namanya siapa?” tanyanya dengan ramah. “Nama saya Lastri pak, saya baru datang pertama kali ke sini. Kampung saya di Cilacap, saya dijanjiin mau dikasih kerjaan jadi pembantu rumah tangga.” Gadis kampung itu menyeka air matanya sebelum meneruskan ceritanya. “Tapi semalam bisnya telat, jadi begitu saya sampai disini. Lowongan pekerjaannya udah diisi sama orang lain.” “Nah, terus nak Lastri kenapa sedih? Gak tau jalan pulang?” tanya Pak Fahri yang melihat peluang di depan matanya. “Bukan pak, saya gak punya ongkos pulang ke kampung.” “Lantas kenapa kamu gak telepon aja keluarga kamu di kampung minta dijemput?” “Keluarga saya gak ijinin saya kerja di luar kota. Jadi saya kabur dari rumah pak.” Terang Lastri sambil tangisnya meledak lagi tampak sekali menyesali keputusan buruk yang telah diambilnya. Sedangkan senyum pak Fahri semakin merekah lebar mendengar semua penuturan gadis kampung yang polos itu. Diperhatikannya tubuh Lastri yang berkulit putih bersih khas kembang desa. Dengan buah dada yang jelas mencetak di kaos ketatnya, pak Fahri tak perlu menebak-nebak lagi berapa ukurannya. "Hmm... begini saja nak Lastri. kalo kamu mau, kamu boleh bekerja disini selama beberapa hari. Yahh... anggap saja gajinya buat kamu tabung untuk ongkos pulang kembali ke kampung. Kalo kamu betah dan mau terus bekerja disini, saya pun gak bakal melarang. Saya cuma niat membantu kamu saja." usul pak Fahri dengan raut wajah yang meyakinkan. "Bener pak? bapak ijinin saya bekerja disini?" "Iya, kamu boleh tinggal disini. saya ada kamar kosong di atas." "Terima kasih ya pak, saya betul-betul gak akan mengecewakan bapak." kata Lastri buru-buru sambil meraih tangan pak Fahri dan menciumnya. Air mata Lastri yang tadinya sudah kering pun kembali keluar karena tersentuh akan kebaikan hati pak Fahri. "Sudah... sudah, kamu pasti lapar. Sebentar lagi sudah waktunya tutup, saya buatin kamu bakmie buat ganjal perut sebelum kita makan malam." usul pak Fahri, dan Lastri pun bukannya tak mau, karena memang sejak semalam perutnya belum diisi dengan makanan. dia mengambil tempat duduk yang kosong dan menerima makanan yang disuguhkan pak Fahri dengan berkali-kali ucapan terima kasih terlontar dari mulutnya. Sementara Lastri menyantap bakmie buatan pak Fahri. Pelanggan yang memang sudah tahu jam buka dan tutupnya warung bakso pak Fahri, satu persatu meninggalkan tempat itu sehabis mengisi perut mereka. Pak Fahri pun dengan santai menutup warungnya, ia menarik pintu lipat dari papan kayu itu lalu mencantelkan gembok tanpa menguncinya. Kemudian ia masuk ke dapur, mengambil sebuah gelas dan membuat bandrek hangat untuk diberikan kepada si gadis kampung, dan tentu saja tak lupa ia memasukkan obat perangsang dosis tinggi seperti yang diberikan pada Jill hampir sepekan yang lalu. "Kebetulan nih, stok daging udah mau habis." gumam pak Fahri dengan seringai jahat di wajahnya.


Share On Facebook
Share On Twitter

Kategori: Cerita Abg, Cerita Selingkuh,

Belum ada komentar